Minggu, 13 Agustus 2017

HELP! I'm Hurt

Pernah enggak sih kalian ngerasa disakiti, dibohongi, dikhianati, dijebak, dijerumuskan, didzalimi? duile bahasanya sinetron amat yak. Hahaha. Tapi kalau lagi kejadian, rasanya emang sedih, iya nggak sih? Saya pernah merasa seperti itu, rasanya sebel dan sedih banget. Dalam kasus saya, ibaratnya saya direpotin tapi caranya pake dibohongin. Kenapa sih pake tipu daya segala? Toh orang bisa bantu sebisanya  kalau diminta tolong baik-baik. Tapi ini semacam ... dikasih janji palsu eh akhirnya = direpotin + saya gabisa keluar dari situasi tersebut. Haha, itu sih kasus saya. Kalian mungkin pernah merasakan kejadian yang lain.

Nggak bisa keluar dari situasi tersebut...

Iya. Karena orang ybs kabur, pergi, nggak ada kabar, sedangkan akibatnya saya yang harus menghadapi sendiri.
Ada juga yang tidak bertanggungjawab dengan perannya sehingga saya yang harus menanggung akibatnya. Hmm... tentu kalian pernah kan merasa kejadian seperti ini? Minimal di tugas kelompok... tapi dalam kasus saya, akibatnya fatal, dan lagi-lagi saya nggak bisa keluar dari situasi tersebut, karena ya, resikonya cukup besar. Ada pula yang padanya saya sudah nggak berprasangka, lah, kepercayaan saya dibuang-buang. 

Kok bisa sih orang seperti itu?

Saya tahu, posisi dan kepentingan orang beda-beda. Kita nggak pernah tahu alasan sebenar-benarnya sesorang melakukan suatu hal yang merugikan orang lain. Misalnya sesepele orang membully, mungkin latar belakangnya karena doi insecure, atau ada masalah lain. Meskipun tidak dibenarkan tindakan tersebut. Maksudnya, nggak mentang-mentang lo stres lantas bisa menyakiti orang lain kan? Saya juga pernah membully, yang baru saya sadar di kemudian hari, itu cuma gara-gara saya kesel sama orang tersebut, atau saya merasa stres karena dibully juga sama orang lain, atau iri, atau ya pengen ngebales aja perbuatan apa yang pernah dia lakukan ke saya. Childish ya? Yaiya, pada masa-masa itu saya masih SMP :D  ex-bad girl alert

Lah kan sekarang masa kita sudah dewasa?

Kita tentu gabisa nyamain atau ngejudge orang tersebut kaya penjahat/koruptor. Saya sedih sih, ada aja orang yang berlaku seperti itu. Mementingkan kenyamanan dan tujuannya doi, dengan cara melimpahkan ketidakenakannya pada orang lain. Lebih sedih lagi, bisa jadi korbannya nggak cuma saya. Tapi intinya, kita nggak akan pernah tahu, kenapa orang berbuat seperti itu. Hal yang bisa kita tahu adalah, apa yang bisa kita lakukan saat ini. 


Bohong sih, kalau perilaku orang yang tidak menyenangkan nggak akan mempengaruhi diri kita, tapi seenggaknya coba deh. 

Saya sendiri sebel agak lama karena efek merugikannya memang nggak satu dua hari. Tiap di bidang itu saya merasa kesulitan, saya selalu ingat dan sebel,
sampai 
saya dengar nasehat,

"memangnya dia akan menemani kamu di kuburan? Akan bisa menyelamatkan kamu di akhirat?"

Buat saya itu ngejleb banget. Buat apa sih saya sebel sementara orang tsb ena ena entah di mana. Dikasih uang aja kaga haha. Rugi dobel saya. 

Jangan jadikan hambatan apalagi alasan

Percaya deh, setiap orang punya masalah masing-masing. Jangan merasa jadi orang paling menderita di dunia, nggak ada gunanya. Saya udah ngalamin kok. Ada hari-hari ketika saya menyalahkan orang tersebut berulang-ulang, saya jadikan dia alasan kelambatan saya, saya jadikan alasan tidak selesainya pekerjaannya saya, saya salahkan dia karena kesulitan yang saya alami. Tapi apakah masalah saya selesai? Tidak. Apakah orang lain/sistem bakal ngertiin masalah saya? Nope. Meski saya bisa curhat ke semua orang di dunia, itu nggak menyelesaikan masalah juga. 

Ini memang sudah digariskan. Mungkin jalan hidupsaya terlalu mudah, mungkin saya harus lebih berusaha lagi supaya kualitas jiwaraga saya lebih baik *iyain aja ya* mungkin ya... saya harus ngalami ini sebagai jalan saya. Kalau dicari hikmahnya pasti banyak banget deh. Otomatis kita juga belajar menghadapi masalah-masalah yang lebih banyak dan cara menyelesaikannya. Menyadari apa yang bisa kita lakukan, menurut saya super penting dalam menghadapi masalah, karena buktinya, ngeluh itu nggak menyelesaikan apa-apa. Waktu kita yang ngeluh-ngeluh itu mending dialokasikan untuk instrospeksi dan belajar lagi. Yup!

Terakhir, sebenarnya yang rugi bukan kamu kok, tapi dia :)

Saya percaya, manusia kan punya free will ya, bisa memilih mana yang baik dan benar. Mungkin kamu dikasih tahu duluan, nih nggak bener orangnya. Kamu dapet nggak enaknya di awal, tapi bisa ngeblacklist orang itu semau kamu, selama sisa hidupmu. Tentu saja memaafkan (mungkin saya lebih memilih 'melepaskan') orang ybs perlu, karena nggak enak kali bawa-bawa beban, tapi kamu bisa memilih nggak kerja/berhubungan sama orang itu lagi kan? 

Mungkin kamu sekarang posisinya lebih lemah daripada doi, seperti dulu saya pernah membully orang yang lebih lemah dari pada saya, tapi nggak tahu kan di masa depan apa yang akan terjadi? Minimal di mata kamu, dia sudah mencoreng wajahnya sendiri, siapa coba yang rugi? Dalam kasus pertemanan, mungkin bully-bullyan bisa jadi bahan bercandaan di masa depan karena kebodohan masa kecil. Misalnya saya, orang yang dulu paling sering berantem sama saya malah jadi salah satu sahabat terbaik. Tapi dalam urusan lain yang akibatnya merugikan orang dan pelakunya kabur begitu saja? Meh. Kalau saya, alhamdulillah diperlihatkan sejak sekarang sehingga bisa menjauhinya. 

Kesempatan kedua dan ketiga memang ada, tapi coba deh pikir pikir lagi kalau mau merugikan orang lain. Ini baru dunia say, bisa lari, di akhirat? Kalau saya bilang semoga mendapat hidayah, hehe, kaya pengajian ya, tapi sebaiknya didoakan saja supaya segera bertaubat di dunia.

Saya juga jadi belajar banyak, menghandle ini itu, berkompromi dengan berbagai hal, dan tentu supaya nggak melakukan hal yang sama.  Buat saya, saya jadi belajar buat bertanggungjawab dengan peran saya, menepati janji saya, sekecil apapun, dan menjelaskan apa yang sedang saya alami jika memang saya nggak mampu menepatinya. Bisa saja buat kita mudah hilang dan melimpahkan 'ah pasti dia bisa, ah pasti dia nggak keberatan', tapi nggak tahu apa kesulitan itu bagi orang lain seperti apa? Saya juga belajar lebih asertif, kepo apa sebenarnya permasalahannya. 

Buat kamu, nggak usah sedih lama-lama ya. Lepaskan saja :) Apa pun kejadiannya, karena kamu yang menjalani hidup kamu, ini memang digariskan buat kamu, buat kamu jadi yang paling beruntung dengan caramu sendiri, OK? 


PS: Ini berlaku untuk orang yang benar-benar sudah terbukti mangkir ya, bukan yang hanya prasangka saja (maksudny kita berprasangka tanpa konfirmasi/bukti).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar