Selasa, 05 September 2017

G Day!

Alhamdulillah, 23 Agustus lalu resmi meninggalkan dunia kampus :))). Sedih meninggalkan kampus dan segala isinya, tapi excited juga menapak babak baru *ceilah*. Beneran kok, ini bukan pencitraan, haha. Banyak hal yang menunggu untuk dikerjakan, babak baru yang menunggu untuk dilewati. Setelah menjalani prosesi wisuda (yang ternyata cuma gitu toh haha), flashback mikir yaampun, udah sampai sini aja. Rasanya baru kemarin lala lala yeye yeye bikin formasi Indonesia Raya di Lapangan Pancasila. Hari itu, setelah keluar dari GSP, peluk ayah ibu, kerasa senang dan leganya :)) 

Baik, akan ada parade foto setelah ini hahaha :))


nisah-aalaa




aalaa-dhifa-nisah-tina anak kos solehah



kamal aalaa nisah



inung azura




inung azura lagi



ayah anis ibu




saya



muti hadfi sarah azura una arina



sebagian Sasindo 2013



bu uci-nisah-bang ipul KW-dhifa-keenan (cah bul 







Sedikit cerita mengenai ribet-ribet wisuda, lucu deh, saya excited mulai dari konsep makeup sampai baju hahaha. Pokoknya nyari inspirasi baju wisuda dan rias wisuda adalah isi dari kegiatan berpinterest saya selama beberapa bulan terakhir. Plus nggak usah ditanya deh, tiap ambil data pasti nemu rias wisuda bla bla bla di youtube hehehe.  Beli kuas + makeup (check udah dari gatau kapan) beli kain (check), cari modest grad fit inspo (check), cari kerudung (check). Sudah sampai tahap itu aja, terus selanjutnya kaya menguap aja sebulan terakhir ini. Mulai dari baju yang tiba-tiba aja 'em ganti aja deh yang ini', terus makeup yang 'udah lah gini aja sebodo amat sama kontur (kuas gatau ilang ke mana pas pindahan kos)', kerudung yang 'gajadi deh ribet amat pake ini aja', kainnya gimana makenya? 'Hhh bodo amat deh lilit-lilit aja'  (lihat aja nggak simetris kan itu literally  gubet-gubet doang). Bahkan H-2 belum nyoba itu baju gara-gara belum sampe rumah dari beberapa hari. Hari itu saya ngobrol-ngobrol sama Dhifa,
 "Udah kamu nginep kos aja," 
"Mmm, nggak tahu ya kayanya aku harus pulang deh, dari kemarin belum pulang," 
"besok kan gladi pagi, sekalian daripada bolak balik,"
 "Mmm kayanya aku tetep harus pulang deh," (jawab saya cluelessly

Lah bener ternyata saya udah segitu lupanya sama baju, pas pulang baru sadar baju belum dicoba dan kegedean zzz. H-1 Ibu suruh saya dedel dan beliau jahitin. Terus ayah komentar, "lho kok kaya baju pemain sirkus sih?" zzz
Kemudian dengan persiapan sebegitunya, dan ribuan (bay) video yang sudah saya tonton selama setahun belakangan, saya baru trial makeup pas malam wisuda dong. Maunya minimal-natural-flawless-effortless but you know that's actually cost much effort  ya, hahaha. Ujung-ujungnya primer-concealer-bedak, mata mau diapain deh, ujung-ujungnya pasang eyeshadow pake jari aje.  Padahal wisuda periode lalu saya dandanin teman, dan beberapa bulan lalu dandanin Caca dengan sebegitu jumpalitannya trial error dulu (pakai jamsu lah, ini lah itu lah), gatau kenapa wisuda sendiri pada akhirnya 'aaa yaudah gini udah OK' like I never cared atau saking pedenya ini bakal berhasil hahaha yaiyalah ga macem-macem apanya yang diberhasilin? 

Satu kejadian yang mengharukan adalah Inung yang turun gunung dari tempat KKN doi buat ke wisuda saya. Ceritanya doi habis kecelakaan solo, cokelat di wajahnya itu bukan editan btw, saya sampe nggrigisi pas chat sama Inung terakhir kali. Tahu-tahu Inung nelpon waktu wisuda dan bilang udah di deket FIB, huaa saya langsung keluar cari doi yang diantar adeknya. Ternyata doi memang turun gunung untuk check up sekalian modus. Kedatangan kemudian disusul teman-teman SMP  lain, (kami memang super rajin saling dateng ke seremoni wisuda biar bisa foto-foto dan kumpul :D). 

Baiklah, sekian cerita wisuda saya. Saya senang melewati hari itu (akhirnya). What's next? That's a secret I never tell XOXO Gossip Girl LOL Mohon doa terbaik untuk si sarjana ini :)))




CHERS!

Anisah Zuhriyati Abdillah, S.S (iiiiiiik)

Minggu, 13 Agustus 2017

HELP! I'm Hurt

Pernah enggak sih kalian ngerasa disakiti, dibohongi, dikhianati, dijebak, dijerumuskan, didzalimi? duile bahasanya sinetron amat yak. Hahaha. Tapi kalau lagi kejadian, rasanya emang sedih, iya nggak sih? Saya pernah merasa seperti itu, rasanya sebel dan sedih banget. Dalam kasus saya, ibaratnya saya direpotin tapi caranya pake dibohongin. Kenapa sih pake tipu daya segala? Toh orang bisa bantu sebisanya  kalau diminta tolong baik-baik. Tapi ini semacam ... dikasih janji palsu eh akhirnya = direpotin + saya gabisa keluar dari situasi tersebut. Haha, itu sih kasus saya. Kalian mungkin pernah merasakan kejadian yang lain.

Nggak bisa keluar dari situasi tersebut...

Iya. Karena orang ybs kabur, pergi, nggak ada kabar, sedangkan akibatnya saya yang harus menghadapi sendiri.
Ada juga yang tidak bertanggungjawab dengan perannya sehingga saya yang harus menanggung akibatnya. Hmm... tentu kalian pernah kan merasa kejadian seperti ini? Minimal di tugas kelompok... tapi dalam kasus saya, akibatnya fatal, dan lagi-lagi saya nggak bisa keluar dari situasi tersebut, karena ya, resikonya cukup besar. Ada pula yang padanya saya sudah nggak berprasangka, lah, kepercayaan saya dibuang-buang. 

Kok bisa sih orang seperti itu?

Saya tahu, posisi dan kepentingan orang beda-beda. Kita nggak pernah tahu alasan sebenar-benarnya sesorang melakukan suatu hal yang merugikan orang lain. Misalnya sesepele orang membully, mungkin latar belakangnya karena doi insecure, atau ada masalah lain. Meskipun tidak dibenarkan tindakan tersebut. Maksudnya, nggak mentang-mentang lo stres lantas bisa menyakiti orang lain kan? Saya juga pernah membully, yang baru saya sadar di kemudian hari, itu cuma gara-gara saya kesel sama orang tersebut, atau saya merasa stres karena dibully juga sama orang lain, atau iri, atau ya pengen ngebales aja perbuatan apa yang pernah dia lakukan ke saya. Childish ya? Yaiya, pada masa-masa itu saya masih SMP :D  ex-bad girl alert

Lah kan sekarang masa kita sudah dewasa?

Kita tentu gabisa nyamain atau ngejudge orang tersebut kaya penjahat/koruptor. Saya sedih sih, ada aja orang yang berlaku seperti itu. Mementingkan kenyamanan dan tujuannya doi, dengan cara melimpahkan ketidakenakannya pada orang lain. Lebih sedih lagi, bisa jadi korbannya nggak cuma saya. Tapi intinya, kita nggak akan pernah tahu, kenapa orang berbuat seperti itu. Hal yang bisa kita tahu adalah, apa yang bisa kita lakukan saat ini. 


Bohong sih, kalau perilaku orang yang tidak menyenangkan nggak akan mempengaruhi diri kita, tapi seenggaknya coba deh. 

Saya sendiri sebel agak lama karena efek merugikannya memang nggak satu dua hari. Tiap di bidang itu saya merasa kesulitan, saya selalu ingat dan sebel,
sampai 
saya dengar nasehat,

"memangnya dia akan menemani kamu di kuburan? Akan bisa menyelamatkan kamu di akhirat?"

Buat saya itu ngejleb banget. Buat apa sih saya sebel sementara orang tsb ena ena entah di mana. Dikasih uang aja kaga haha. Rugi dobel saya. 

Jangan jadikan hambatan apalagi alasan

Percaya deh, setiap orang punya masalah masing-masing. Jangan merasa jadi orang paling menderita di dunia, nggak ada gunanya. Saya udah ngalamin kok. Ada hari-hari ketika saya menyalahkan orang tersebut berulang-ulang, saya jadikan dia alasan kelambatan saya, saya jadikan alasan tidak selesainya pekerjaannya saya, saya salahkan dia karena kesulitan yang saya alami. Tapi apakah masalah saya selesai? Tidak. Apakah orang lain/sistem bakal ngertiin masalah saya? Nope. Meski saya bisa curhat ke semua orang di dunia, itu nggak menyelesaikan masalah juga. 

Ini memang sudah digariskan. Mungkin jalan hidupsaya terlalu mudah, mungkin saya harus lebih berusaha lagi supaya kualitas jiwaraga saya lebih baik *iyain aja ya* mungkin ya... saya harus ngalami ini sebagai jalan saya. Kalau dicari hikmahnya pasti banyak banget deh. Otomatis kita juga belajar menghadapi masalah-masalah yang lebih banyak dan cara menyelesaikannya. Menyadari apa yang bisa kita lakukan, menurut saya super penting dalam menghadapi masalah, karena buktinya, ngeluh itu nggak menyelesaikan apa-apa. Waktu kita yang ngeluh-ngeluh itu mending dialokasikan untuk instrospeksi dan belajar lagi. Yup!

Terakhir, sebenarnya yang rugi bukan kamu kok, tapi dia :)

Saya percaya, manusia kan punya free will ya, bisa memilih mana yang baik dan benar. Mungkin kamu dikasih tahu duluan, nih nggak bener orangnya. Kamu dapet nggak enaknya di awal, tapi bisa ngeblacklist orang itu semau kamu, selama sisa hidupmu. Tentu saja memaafkan (mungkin saya lebih memilih 'melepaskan') orang ybs perlu, karena nggak enak kali bawa-bawa beban, tapi kamu bisa memilih nggak kerja/berhubungan sama orang itu lagi kan? 

Mungkin kamu sekarang posisinya lebih lemah daripada doi, seperti dulu saya pernah membully orang yang lebih lemah dari pada saya, tapi nggak tahu kan di masa depan apa yang akan terjadi? Minimal di mata kamu, dia sudah mencoreng wajahnya sendiri, siapa coba yang rugi? Dalam kasus pertemanan, mungkin bully-bullyan bisa jadi bahan bercandaan di masa depan karena kebodohan masa kecil. Misalnya saya, orang yang dulu paling sering berantem sama saya malah jadi salah satu sahabat terbaik. Tapi dalam urusan lain yang akibatnya merugikan orang dan pelakunya kabur begitu saja? Meh. Kalau saya, alhamdulillah diperlihatkan sejak sekarang sehingga bisa menjauhinya. 

Kesempatan kedua dan ketiga memang ada, tapi coba deh pikir pikir lagi kalau mau merugikan orang lain. Ini baru dunia say, bisa lari, di akhirat? Kalau saya bilang semoga mendapat hidayah, hehe, kaya pengajian ya, tapi sebaiknya didoakan saja supaya segera bertaubat di dunia.

Saya juga jadi belajar banyak, menghandle ini itu, berkompromi dengan berbagai hal, dan tentu supaya nggak melakukan hal yang sama.  Buat saya, saya jadi belajar buat bertanggungjawab dengan peran saya, menepati janji saya, sekecil apapun, dan menjelaskan apa yang sedang saya alami jika memang saya nggak mampu menepatinya. Bisa saja buat kita mudah hilang dan melimpahkan 'ah pasti dia bisa, ah pasti dia nggak keberatan', tapi nggak tahu apa kesulitan itu bagi orang lain seperti apa? Saya juga belajar lebih asertif, kepo apa sebenarnya permasalahannya. 

Buat kamu, nggak usah sedih lama-lama ya. Lepaskan saja :) Apa pun kejadiannya, karena kamu yang menjalani hidup kamu, ini memang digariskan buat kamu, buat kamu jadi yang paling beruntung dengan caramu sendiri, OK? 


PS: Ini berlaku untuk orang yang benar-benar sudah terbukti mangkir ya, bukan yang hanya prasangka saja (maksudny kita berprasangka tanpa konfirmasi/bukti).

Senin, 07 Agustus 2017

prasangka

hati saya ngilu mendengar kabar yang ramai dibicarakan beberapa hari ini.
mudahnya menghakimi, sulitnya mendengarkan, mudahnya menyakiti, menyesalnya hingga kapan?
mendengarnya saya merasa teriris, bagaimana dengan yang melihat? bagaimana dengan yang …

sedih
namun lagi-lagi
hal yang sudah terjadi
memang sudah digariskan
apa yang perlu diperbaiki
cermin itu memantulkan apa?

nis, 
jangan mudah menghakimi
jangan mudah marah
sekecil kamu berprasangka,
sekecil kamu marah tak bermusabab


jangan mengikuti langkah yang berbau busuk itu
hingga nanti
sadar bahwa, semulanya aturan hidup ini sungguh sederhana
sungguh sederhana





Rabu, 02 Agustus 2017

My August Be Like...

Saya biasanya paling males pergi jauh naik motor. Jauh dikit naik motor ngeluh. Tepar, dsb. Makanya saya terima naik sepeda selama kuliah dari kos-kampus, dan nebeng/ngojek kalo ke mana-mana, atau mentok-mentok kalo terpaksa banget. Bagi saya perjalanan dari kos di Terban ke Tamsis aja jauhnya udah minta ampun, apalagi kalo ke daerah Bantul, beh, menurut saya udah luar kota. Saking cupunya, saya pernah bengong pas nganter temen ke Terminal Giwangan lewat Ringroad Selatan, dzzz, menurut saya asiiing banget. Ini jalan apa sih? Sampai-sampai teman saya khawatir saya pulangnya nyasar. Haha, enggak nyasar sih pulangnya, kalau lewat XT Square masih ngerti.

Nah sekarang, dua hari belakangan ini saya membelah kota jogja dari barat ke selatan, ke utara, lalu ke barat lagi. Nahan diri ga kasih emot mata lelah wkwk, karena masih ada 30 hari lagi yang harus saya lalui. Saya tahu deh, akan tiba saatnya saya keluar dari zona nyaman, meskipun nggak harus keluar kota. Motoran, gimana caranya supaya satu jam sampe selatan, karena gabisa berangkat lebih pagi lagi. Padahal saya nggak biasa ngebut parah, lha wong biasanya 10km/jam  ya. Alhamdulillah bersyukur karena ngerasain support system di rumah sangat bisa disandari. Andddd... I am supposed to help my mother with doing the dishes, but it ended up with... my mother help me doing my household job wkwk. Nyupir (nyuci piring) itu sesuatu banget deh. 

Apa pun itu, saya semangat koq. Meski saya tahu, proses adaptasi saya nggak bisa dipercepat secepat itu. Meski campur aduk, ye tau lah saya sebenarnya nggak suka suka amat going out. Jika ini yang bisa saya lakukan untuk berguna bagi orang lain + mengembangkan diri sendiri, ya coba saya jalani. Masa sia-sia amat udah hidup :( Saya jadi inget masa-masa wira-wiri di kampus. Kalau itu urusannya organisasi sono sini, ini lebih kaya ... buat hidup gitu. Rasanya kek lagi nyemplung ke dalam kehidupan sebenarnya a.k.a real life. Kalo dulu alasannya 'cuma' buat belajar, rasanya ini kaya ... mulai praktik beneran. 

Meski pala puyeng, karena agak bingung dan jet lag, tapi buktinya saya masih semangat ngeblog dengan mata 5 watt haha. Setiap orang punya jalannya sendiri-sendiri, untuk dua hari ini, saya belajar satu hal yang udah sering kali ye di quote quote gitu. Nggak usah iri sama orang lain. Kenapa iri sama apa yang dituliskan buat orang lain? Kamu nggak yakin sama hidup diri kamu sendiri? Bahkan cicak yang hanya diam-diam merayap dan nggak bisa terbang aja bisa makan nyamuk. Jalani aja deh. Semangat aja deh. Karena Alhamdulillah, kita masih bisa memilih untuk merasa bersyukur. 

"...dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” (Hud : 6).

Rabu, 26 Juli 2017

[DIY] Decorative Tin!


Assalamualaikum!

Setelah lebaran usai, pasti banyak bets kaleng-kaleng tidak terpakai. Daripada dibuang, tapi ujung-ujungnya malah beli wadah untuk tempat A, B, C, mending memanfaatkan kaleng-kaleng ini. Pasalnya kaleng bekas mudah banget dipoles supaya lebih menarik untuk digunakan kembali. Bisa dibungkus kain perca, ditempeli kertas dengan teknik decoupage dan dicat ulang!

Nah, saya sih milih yang paling gampang aja, tinggal semprot-semprot hehe. Kaleng bekas biskuit bisa jadi wadah kertas-kertas biar lebih rapi. Ini sebenarnya sudah saya buat bertahun-tahun-tahun yang lalu. Mumpung momennya pas, saya pos ulang saja yah :)

Peralatan :


kaleng

● plester kertas
● cat semprot/pilox

● koran untuk alas



cat semprotnya boleh sesuka hati, saya sih two tone saja.

 
Semprot dengan warna dasar yang diinginkan


Plester sesuai motif yang diinginkan
 Karena saya cupu, yawislah geometris saja. Tinggal tempel-tempel dengan bentuk zig-zag.


Timpa dengan cat warna lain

Karena semprotnya nggak sekaligus dan agak kagok, jadi keringnya beda-beda. Ternyata sebaiknya dibuat tipis-tipis tapi berlapis, bukannya semprot sampe ndlodhok  kaya gitu.


PS : karena nggak pengalaman main semprot aja, padahal kalau kocoknya kurang lama jadinya meleber-meleber dan nggak rapi.  Buat plester, emang enak pake plester yang bahannya semi kertas gini, gampang dikeletek tapi nggak tembus juga waktu disemprot cat.


Taraa... jadi! Itu yang atas nggak rapi deh, mungkin karena kelamaan jadi malah keburu kering, atau karena semprotannya nggak rata, catnya jadi tebal dan ga nampol.


Ngomong-ngomong soal reuse-recycle dan green lifestyle, ada diskusi menarik yang akan dilaksanakan secara daring oleh Greenpack Project dengan tema Ways Out Of Waste pada bulan Agustus nanti! Jangan sampai ketinggalan, dan cek infonya di sini.


 Selamat mencoba ya! Kalau ada ide recycle/reuse, bagi boleh lho :)